JAKARTA, PARLEMEN.CO.ID – Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyoroti besarnya skala kerusakan infrastruktur pendidikan akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 25 November 2025. Ia menilai, tingginya jumlah sekolah rusak menunjukkan perlunya langkah rekonstruksi serius dan terencana, bukan sekadar penanganan darurat.
Hetifah menyampaikan, data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 14 Januari 2026 mencatat 4.639 satuan pendidikan terdampak. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3.000 sekolah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak total, dengan 1.225 sekolah rusak berat dan 180 sekolah hancur sepenuhnya.
“Angka ini menunjukkan bahwa tantangan kita bukan kecil. Rekonstruksi sekolah harus dirancang dengan standar ketahanan bencana yang lebih baik,” kata Hetifah di Jakarta, Sabtu (18/1/2026).
Ia menekankan bahwa kerusakan infrastruktur sekolah berdampak langsung pada kualitas dan keberlanjutan pembelajaran. Meski sebagian sekolah sudah kembali digunakan, banyak di antaranya masih beroperasi dengan keterbatasan, seperti belajar di tenda atau menumpang di fasilitas lain.
Bencana tersebut juga berdampak luas pada 683.259 siswa dan 59.397 guru serta tenaga kependidikan. Menurut Hetifah, kondisi ini berpotensi menimbulkan kesenjangan pembelajaran jika pemulihan infrastruktur tidak dilakukan secara cepat dan menyeluruh.
Hetifah mengapresiasi langkah awal pemerintah dalam membersihkan ribuan sekolah, membangun ruang kelas darurat, serta menyalurkan bantuan perlengkapan belajar dan tunjangan guru. Namun, ia menegaskan bahwa fase selanjutnya harus berfokus pada pembangunan kembali sekolah secara permanen.
“Sekolah yang rusak berat dan total tidak bisa diselesaikan dengan solusi sementara. Dibutuhkan rekonstruksi menyeluruh agar aman, layak, dan tahan terhadap bencana,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar pembangunan sekolah pascabencana terintegrasi dengan perbaikan infrastruktur pendukung, seperti akses jalan, sanitasi, dan utilitas dasar, terutama di sekitar hunian sementara.
“Rekonstruksi sekolah adalah fondasi pemulihan jangka panjang. Dari sana, kita memastikan anak-anak bisa kembali belajar dengan aman dan bermartabat,” pungkas Hetifah (*)

Komentar